Vendor assessment biasanya dilakukan sebagai proses awal seleksi sebuah vendor agar bisa masuk ke dalam AVL/AML sebuah perusahaan. Karena ini adalah proses awal, maka yang perlu di-assess adalah mengenai legalitas perusahaan, production capacity, quality performance dan HSE performance dimana dimasing-masing item tsb biasanya akan dibreakdown dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan detail dan kemudian discoring untuk kemudian ditentukan apakah dia layak (baca: lulus) untuk masuk AVL/AML tadi.

 

Biasanya perusahaan melakukan vendor assesment/audit kurang lebih sbb:

  • opening dan menyampaikan apa objective yang ingin didapat.
  • request 1 orang (minimal) pihak vendor untuk menemani/membantu kita selama assesment. Bisa orang Procurement, Quality atau bahkan MRnya suruh turun gunung.
  • jika memungkinkan minta dikenalkan ke jajaran manajemennya.
  • interview/diskusi dengan penanggung jawab vendor mengenai bisnis perusahaan, bagaimana tentang manajemen kualitas, apakah sudah ISO certified atau belum termasuk dokumentasi di dalamnya, struktur organisasi, siapa saja orangnya, bagaimana fasilitas fabrikasi , "realisasi produk" dll. Beberapa dari pertanyaan2 yang diajukan bisa kita minta ditunjukkan buktinya.
  • Buat catatan2 penting untuk dilakukan verifikasi (misal quality record, mesin2) saat kita lakukan tour ke fasilitas mereka, misal workshop, laboratorium, warehouse.
  • informasikan kepada vendor tentang fakta yang ditemukan di lapangan, baik kesesuaian maupun ketidaksesuaian.
  • informasikan saran2 kita untuk perbaikan mereka dan untuk mendukung pekerjaan kita.
  • jika perlu kita bisa sampaikan hasil assesment apakah vendor ini recommended atau tidak bagi kita untuk diajak kerja sama sebagai vendor. Jika statusnya sudah sebagai vendor, minta ke mereka improvement2 yang dianggap perlu.

-Salam-

Iklan